Sabtu, 22 Oktober 2011

SOSIALISASI SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN


A.   Proses Sosialisasi
Setiap manusia sejak lahir, setelah dewasa bahkan sampai meninggal melakukan proses sosialisasi. Seorang bayi, anak-anak, orang dewasa maupun orang tua melakukan sosialisasi tanpa kecuali. Melalui proses soialisasi inilah manusia memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini bertujuan menjadikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat. Kesuksesan proses sosialisasi seseorang jelas akan mempengaruhi kehidupan sosialnya.
Proses sosialisasi yang dialami oleh setiap orang dapat terjadi secara tidak langsung ataupun secara langsung. Proses sosialisasi secara tidak langsung terjadi jika seseorang mempelajari nilai dan norma melalui telepon, surat, atau media massa seperti surat kabar, majalah, bulletin, dan tabloid. Sedangkan proses sosialisasi secara langsung biasanya terjadi dalam pergaulan sehari-hari. Setiap orang bertatap muka langsung dalam mempelajari dan menghayati nilai dan norma yang berlaku dalam sebuah pergaulan. Oleh karena itu, interaksi dan komunikasi memiliki peranan penting dalam berlangsungnya proses sosialisasi.

1.  Pengertian Sosialisasi
         Sosialisasi adalah suatu proses sosial, yang terjadi bila seseorang menghayati dan mengamalkan atau melaksanakan norma-norma kelompok tempat ia hidup, sehingga akan merasa menjadi bagian dari kelompok tadi.
         Dilihat dari kepentingan individu, sosialisasi adalah suatu proses sosial yang terjadi bila seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku kelompoknya.
Pengertian sosialisasi dari beberapa ahli :
a.  Drs. Suprapto
     Sosialiasi adalah suatu proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang diajarkan.
b.  Hasan Shadly
Sosialisasi adalah proses seseorang mulai menerima dan menyesuaikan diri terhadap adat istiadat suatu golongan yang lambat laun akan menjadi bagian dari golongan tersebut.
c.  Edwar A. Ross
Sosialisasi adalah pertumbuhan perasaan “kita” yang akan menimbulkan tindakan segolongan.
d.  Laurance
Sosialisasi adalah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu kebudayaan dan berusaha menguasai kebudayaan tersebut.

e.  Peter L. Berger
Sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
f.  Prof. Dr. Nasution, S.H
Sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial.
g.  John C. Macionis
     Sosialisasi adalah pengalaman sosial seumur hidup, dimana individu dapat mengembangkan potensinya dan mempelajari pola-pola kebudayaan mereka.
h.  Jack Levin dan James L. Spates
     Sosialisasi adalah proses penerusan dan penginternalisasian kebudayaan oleh kepribadian individu.
i.   Sukandar Wiraatmadja, M.A
     Sosialisasi adalah suatu proses yang dimulai sejak seseorang itu dilahirkan untuk dapat mengetahui dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan, dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat.
j.   Soerjono Dirjosisworo
     Menurutnya, sosialisasi mengandung tiga pengertian penting, yaitu sebagai berikut.
     1)  Sosialisasi adalah proses belajar atau proses akomodasi di mana individu menahan, mengubah impuls-impuls dalam dirinya, dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya.
     2)  Dalam proses sosialisasi individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide, nilai, norma, dan ukuran kepatuhan tingkah laku dalam masyarakat tertentu.
     3)  Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan dalam diri pribadinya.
k.  Robert M.Z. Lawang
     Sosialisasi adalah proses mempelajari nilai, norma, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.

     2.  Macam-Macam Sosialisasi
            Dilihat dari tahapannya sosialisasi dapat dibagi dua, yaitu.
1)  Sosialisasi Primer (Primary Socialization)
     Sosialisasi primer adalah proses pemelajaran pertama yang dijalani seseorang di masa kecilnya. Sosialisasi primer dialami oleh anak berusia di bawah lima tahun. Pada sosialisasi ini seorang anak mengenal lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Misalnya anak mengenal ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, kakak, sikap menyayangi, tolong menolong, menghormati, bahkan mengenal dirinya sendiri. Semua pemelajaran tersebut akan menjadi dasar anak ketika berinteraksi di masyarakat. Oleh karena itu proses sosialisasi primer merupakan dasar seseorang melakukan sosialisasi sekunder.
2)  Sosialisasi Sekunder (Secundary Socialization)
     Sosialisasi sekunder adalah proses pemelajaran seseorang terhadap lingkungan di luar keluarganya. Sosialisasi sekunder merupakan proses lanjutan dari sosialisasi primer. Dalam sosialisasi sekunder masyarakat atau orang lain lebih memiliki peranan daripada orang tua atau keluarga. Proses sosialisasi sekunder biasanya terjadi di sekolah, lingkungan pergaulan, pengalaman hidup, dan lain-lain. Misalnya seorang anak belajar menyayangi sahabatnya, menghormati guru, menghargai tetangganya, dan lain-lain.

               Dilihat dari pelaksanaannya, sosialisasi memiliki dua pola yaitu.
1)  Sosialisasi Partisipatoris (Participatory Socialization)
     Sosialisasi partisipatoris merupakan proses sosialisasi yang lebih memfokuskan pada penanaman kebiasaan, adat istiadat, nilai, dan norma tanpa melakukan paksaan dan kekerasan fisik. seperti manampar atau memukul. Dalam sosialisasi partisipatoris lebih menekankan pada terbentuknya kesadaran individu terhadap norma-norma yang berlaku.
2)  Sosialisasi Represif (Repressive Socialization)
     Sosialisasi represif merupakan proses sosialisasi yang ditandai adanya hukuman terhadap seseorang yang melanggar norma. Namun, hukuman ini tidak selalu berupa kekerasan fisik. Dalam sosialsasi represif lebih menekankan pada kepatuhan terhadap nilai dan norma yang berlaku.

3.  Tujuan Sosialisasi
Sosialisasi sebagai proses sosial mempunyai tujuan untuk :
a.  Mengetahui lingkungan alam sekitar.
b.  Mengetahui lingkungan sosial baik lingkungan sosial individu tinggal maupun lingkungan lainnya.
c.  Mengetahui nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
d. Mengetahui sosial budaya masyarakat.

4. Faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi
a.  Faktor Intrinsik : faktor yang berasal dari dalam diri individu :
1)      Fisik manusia
2)      Bakat-bakat individu
3)      IQ atau kecerdasan
b.  Faktor Ekstrinsik : faktor yang berasal dari luar diri individu :
1)      Kondisi lingkungan keluarga
2)      Kondisi lingkungan masyarakat setempat
3)      Kondisi lingkungan pergaulan
4)      Kondisi lingkungan pendidikan
5)      Kondisi lingkungan pekerjaan
6)      Kondisi masyarakat luas

B. Media-Media Sosialisasi
a.  Keluarga : baik keluarga inti (nuclear family) maupun kekerabatan (extended family) mempunyai fungsi :
     1)      Fungsi ekonomi
     2)      Fungsi pendidikan
     3)      Fungsi sosialisasi
     4)      Fungsi Pengawasan Sosial
     5)      Fungsi reproduksi
     6)      Fungsi penghubung kerabat
     b. Teman bermain
     Disebut juga teman sebaya, sosialisasi ini dilakukan dalam kelompok bermain dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang yang sederajat, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang sederajat juga mempelajari nilai keadilan.
c.  Lingkungan sekolah
     Yang dipelajari adalah kemandirian, prestasi, universalisme dan kekhasan.
d. Lingkungan kerja
     Dalam lingkungan kerja seseorang individu akan berhadapan dengan macam-macam individu dengan kepribadian yang beraneka ragam, dalam lingkungan ini individu telah mempraktekkan dan melaksanakan penyesuaian diri dengan orang lain serta menjalankan peran sosialnya sesuai dengan kedudukannya.
e.   Media massa
     Media cetak serta media eletronik, Besarnya pengaruh media sangat bergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.
     Media massa mempunyai fungsi :
     1)      Fungsi informasi
     2)      Fungsi edukasi
     3)      Fungsi hiburan
     4)      Fungsi komunikasi

C. Peranan Nilai Dan Norma Sosial Dalam Proses Sosialisasi
            Kehidupan bersama manusia baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial selalu dilandasi akan aturan-aturan tertentu sehingga manusia tidak bisa bertindak semaunya. Aturan-aturan tersebut diciptakan dan disepakati bersama untuk mencapai ketentraman dan kenyamanan hidup bersama dengan orang lain. Aturan-aturan itu disepakati sebagai ukuran, patokan, anggapan, serta keyakinan tentang baik buruk, pantas atau tidak, janggal, asing dll.
1.   Nilai Sosial
       Nilai merupakan kumpulan sikap, perasaan ataupun anggapan terhadap suatu hal mengenai baik buruk, benar-salah, patut-tidak, mulia hina maupun penting dan tidak penting.
       1).    Ciri nilai sosial
(1)   Tercipta dari proses interaksi yang intensif bukan dibawa sejak lahir
              (2)    Ditransformasikan melalui proses belajar
              (3)    Berupa ukuran atau peraturan
              (4)    Berbeda-beda pada tiap kelompok manusia
              (5)    Mempunyai efek yang berbeda bagi tindakan manusia
              (6)    Dapat mempengaruhi kepribadian individu maupun kelompok
2).    Jenis-jenis nilai
(1)   Nilai material  : segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia
(2)   Nilai vital     : segala sesuatu yang berguna bagi manusia agar dapat melakukan aktivitas dalam kehidupannya
(3)   Nilai rohani    : segala sesuatu yang berguna bagi kebutuhan rohani manusia yang bersifat universal. Nilai rohani dibedakan menjadi :
a)    Nilai kebenaran : nilai yang bersumber dari akal atau rasio manusia
b)    Nilai keindahan : nilai yang bersumber dari unsur rasa manusia (estetika)
c)    Nilai moral : nilai yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, bersumber dari kehendak atau kemauan (karsa)
d)    Nilai religius : nilai yang bersumber pada keyakinan dan kepercayaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa
3)    Peran nilai sosial
(1)     Alat untuk menentukan harga sosial, kelas sosial
(2)     Mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
(3)     Memotivasi dan memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan dirinya perilaku yang diharapkan dalam masyarakat.
(4)      Alat solidaritas masyarakat untuk saling bekerjasama.
(5)      Pengawas, pembatas, pendorong dan penekan individu agar selalu berbuat baik .

2.    Norma Sosial
1)    Pengertian Norma Sosial
Norma adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, norma disebut pula peraturan sosial atau ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan seseorang ataupun kelompok merupakan tindakan yang wajar atau menyimpang.
Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa agar bertindak sesuai dengan aturan dalam masyarakat. Norma tidak boleh dilanggar, kalau dilanggar ada hukumnya. Norma dalam masyarakat berisi tata tertib, aturan, petunjuk standar perilaku yang pantas dan wajar .

2)  Tingkatan Norma :
(1)   Cara (Usage) :
       Cara seseorang untuk melakukan suatu hal, misal cara duduk, cara berpakaian, cara makan dll. Pelanggaran terhadap usage tidak dikenakan sanksi tapi sekedar cemoohan, ejekan
(2)   Kebiasaan (Folksway) :
       Suatu tatacara yang telah diterima oleh masyarakat sebagai suatu kebenaran yang harus dilakukan dan kalau dilanggar bisa dikenakan sanksi oleh masyarakat. Misal tidak pernah ikut datang kenduri, gotong royong,  dll.
(3)   Tata kelakuan (Mores)
        Suatu kebiasaan yang telah tertanam kuat dalam masyarakat bahkan menjadi suatu pedoman, mores bisa bersumber dari agama, undang-undang.
(4)  Adat Istiadat (Custom)
       Suatu tata kelakuan akan benar-benar menyatu dengan kehidupan masyarakat dalam bentuk adat istiadat, suatu kebiasaan yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat, suatu tata kelakuan yang sakral dan kuat integritasnya.

3)  Macam-macam Norma
(1)  Norma Agama
Norma ini bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar. Norma agama ditentukan oleh masing-masing agama atau kepercayaan, pelanggaran terhadap norma agama dikatakan dosa dan neraka hukumannya.
(2)  Norma kesusilaan
Norma ini yang paling halus yang dibuat untuk menghargai harkat dan martabat manusia. Norma ini bersumber dari perasaan manusia.
(3)  Norma kesopanan
peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku wajar. Norma ini bersumber pada akal pikir manusia.
(4)  Norma kebiasaan
Sekumpulan peraturan sosial yang berisi petunjuk atau peraturan yang dibuat secara sadar atau tidak perilaku ini dilakukan berulang-ulang sehingga perilaku itu menjadi kebiasaan.
(5)  Norma Hukum
Aturan sosial yang dibuat oleh lembaga-lembaga tertentu, pemerintah, sehingga sanksi akan pelanggaran ini tegas dan jelas.

D. Proses Pembentukan Kepribadian
1.   Arti Kepribadian                             
                 Kepribadian ialah ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang mandiri. Kepribadian merupakan organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Kepribadian memcakup kebiasaan, sikap, dan sifat khas lain yang dimiliki oleh seseorang. 
            Menurut Yinger, kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecendrungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi dalam masyarakat sosial.
            Menurut Allport, kepribadian adalah organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik yang unik pada diri individu yang turut menentukan cara-cara penyesuaian dirinya dengan lingkungan.
            Menurut Sigmund Freud, kepribadian terbentuk oleh tiga kekuatan, yaitu id, super-ego, dan ego. Id berisi dorongan-dorongan primitive yang belum dipengaruhi oleh kebudayaan, seperti dorongan seks, agresi, amarah, dan yang bersifat traumatik. Id umumnya berada di bawah alam ketidaksadaran, sehingga kemunculannya sukar dikendalikan. Superego (akal sehat) berisi dorongan-dorongan untuk  berbuat baik sebagai hasil belajar terhadap lingkungan alam dan kebudayaan. Superego berfungsi sebagai penyaring dan pengawas Id. Sementara ego merupakan sistem energy yang langsung berhubungan dengan dunia luar. Disinilah lingkungan mengambil peranan dalam mempengaruhi kepribadian seseorang.

2.    Tipologi Kepribadian
            Secara umum terdapat enam tipologi kepribadian.
1)  Tipe Realistis
     Yaitu seseorang yang lebih menyukai kegiatan fisik yang menuntut ketrampilan, kekuatan, dan koordinasi. Umumnya karakter mereka adalah pemalu, tahan, stabil, dan mudah menyesuaikan diri. Orang-orang seperti ini cendrung berkedudukan sebagai operator, petani, atau pekerja lini.
2)  Tipe Investigatif
     Yaitu seseorang yang lebih menyukai kegiatan yang mencakup pemikiran, pengorganisasian, dan pemahaman. Umumna karakter mereka suka menganalisis, selalu ingin tahu, indenpenden, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini cendrung berkedudukan sebagai biologi, mekanik, kimia, dan lain-lain.
3)  Tipe Social
     Yaitu seseorang yang lebih menyukai kegiatan membantu meringankan beban orang lain. Umumnya karakter mereka adalah mudah bergaul, kooperatif, mudah memahami sesuatu, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini cendrung berkedudukan sebagai penasihat, konselor, pekerja sosial, dan lain-lain.
4)  Tipe Konvensional
     Yaitu seseorang yang lebih menyukai kegiatan yang memiliki peraturan yang jelas dan tegas. Umumnya karakter mereka adalah mudah menyesuaikan diri, efisien, praktis, tidak luwes, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini cendrung berkedudukan sebagai akuntan, manajer, teller, dan lain-lain.
5)  Tipe Enterfrising
     Yaitu seseorang yang lebih menyukai kegiatan yang ada peluang untuk mempengaruhi orang lain. Umumnya karakter mereka adalah percaya diri, ambisius, energik, mendominasi, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini cendrung berkedudukan sebagai pengacara, manajer bisnis, politikus, dan lain-lain.
6)  Tipe Artistik
     Yaitu seseorang yang lebih menyukai kegiatan yang mendua, ekspresif, kreatif, dan inovatif. Umumnya karakter mereka adalah imajinatif, tidak teratur, idealis, emosional, tidak praktis, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini cendrung berkedudukan sebagai tukang cat, pemusik, seniman, dan lain-lain.
            Berdasarkan fungsinya terdapat empat tipe kepribadian.
1)  Kepriadian Rasional
     Yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh akal pikiran yang sehat.
2)  Kepribadian Intuitif
     Yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh firasat atau perasaan kira-kira.
3)  Kepribadian Emosional
     Yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh perasaan.
4)  Kepribadian Sensitif
     Yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh pancaindra sehingga cepat bereaksi.
            Berdasarkan reaksinya terdapat tiga tipe kepribadian.
1)  Kepribadian ekstrovert
     Yaitu kepribadian yang terbuka, berorientasi ke luar, sehingga sifatnya ramah, suka bergaul, dan mudah menyesuaikan diri.
2)  Kepribadian introvert
     Yaitu kepribadian yang tertutup dan berorientasi pada diri sendiri sehingga sifatnya pendiam, tidak senang bergaul, suka menyendiri, dan sukar menyesuaikan diri.
3)  Kepribadian ambivert
     Yaitu kepribadian campuran yang tidak dapat digolongkan pada ke dua tipe tersebut diatas karena sifatnya bervariasi.

3.    Teori-Teori Kepribadian
            Adapun teori-teori kepribadian yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut.
1)  Teori George Herbert Mead
     Menurut pendapatnya bahwa kepribadian manusia melalui perkembangan diri. Manusia yang baru lahir belum memiliki diri. Oleh karena itu, manusia baru harus mempelajari segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar guna pengembangan diri. Diri manusia akan berkembang secara bertahap melalui proses interaksi dengan orang lain. Adapun tahap-tahap pengembangan diri menurut Georgr Herbert Mead adalah sebagai berikut.
     (1)               Imitation Stage (Tahap Peniruan)
       Imitation stage terjadi pada saat manusia dilahirkan, kemudian manusia mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya dan memahami dirinya sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan tahap peniruan secara sederhana tanpa mengetahui maksud tindakan yang ditiru. Contoh berbicara, berjalan, bernyanyi, dan lain-lain. Anak belum mampu menggunakan simbul-simbul sehingga anak belum memiliki diri.
(2)   Play Stage (Tahap Bermain Peran)
       Pada tahap ini anak telah memiliki kemampuan untuk meniru secara sempurna. Hal ini diwujudkan dalam peniruan terhadap orang lain, seperti sebagai polisi, dokter, guru, dan lain-lain. Melalui permainan tersebut anak mulai mengenal siapakah dirinya sendiri dan orang lain.

(3)   Game Stage (Tahap Bermain Peran)
       Pada tahap ini anak mulai memerankan status dirinya secara langsung dengan penuh kesadaran. Bahkan anak mampu memahami peran yang harus dijalankan oleh orang lain. Contoh anak mulai bermain secara kelompok. Dalam kelompok tersebut seoarang anak sudah dapat memerankan perannya sendiri. Selain itu, ia mengetahui bagaimana peran temannya dalam kelompok tersebut.
(4)   Generalized Stage (Tahap Penerimaan Norma Kolektif)
       Pada tahap ini seseorang sudah mempunyai kedewasaan penuh dalam bersikap. Seseorang mampu bekerja sama serta menjalin interaksi antaranggota masyarakat. Pada tahap ini sifat-sifat yang khas dalam diri seseorang semakin stabil dan teguh, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar.
2)  Teori Charles H. Cooley
     Teori ini dikenal dengan nama teori cermin diri, karena teori ini didasarkan pada analogi orang bercermin, bayangan yang tampak pada cermin adalah gambaran diri seseorang yang terlihat oleh orang lain. Menurut teori ini, setiap orang menggambarkan dirinya sendiri sesuai dengan pandangan orang lain terhadap orang tersebut. Menurut Cooley ada tiga langkah dalam proses pembentukan kepribadian.
     (1)   Seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadapnya.
(2)   seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya.
(3)   Seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya.
3)  Teori Konvergensi
     Teori ini diuangkapkan pertama kali oleh William Stern, seorang psikolog dari Jerman. Menurutnya kepribadian merupakan perpaduan antara pembawaan (faktor internal) dan pengalaman (faktor eksternal). Pembawaan bersumber dari individu, seperti kecerdasan, bakat, minat, kemauan, dan lain-lain. Pengalaman bersumber dari pergaulan, pendidikan, pengaruh lingkungan, nilai-nilai sosial, dan lain-lain.

4.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Kepribadian
            Pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor tertentu. Faktor-faktor inilah yang menjadikan kepribadian individu yang satu dengan individu lainnya berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut.
1)  Warisan Biologis
     Warisan biologis biasanya berupa bawaan dari ibu, bapak, kakek, dan nenek, seperti IQ, bakat seseorang, intelegensi, dan sifat-sifat  yang khas. Warisan biologis dapat berkembang dalam lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, lingkungan sosial seseorang mempengaruhi perkembangan warisan biologisnya.
2)  Lingkungan Fisik
     Lingkungan fisik merupakan lingkungan alam seseorang tinggal. Perbedaan iklim, topografi, letak georafis, dan sumber daya alam yang ada mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Contoh kepribadian orang yang tinggal di daerah kutub bebrbeda dengan orang yang tinggal di daerah tropis.


3)  Lingkungan Budaya
     Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang mengakar kuat dalam diri anggotanya. Lambat laun kebudayaan itu dicerna dan dilakukan setiap saat hingga membentuk kepribadian. Oleh karena itu, kebudayaan ikut memberikan andil dalam mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.
4)  Lingkungan Sosial
     Lingkungan sosial mempunyai nilai dan norma yang disosialisasikan oleh seluruh anggota masyarakat. Semakin lama ia tinggal di lingkungan tersebut, semakin dalam pula seseorang mempelajari nilai dan norma yang berlaku. Akibatnya, nilai dan norma dihayati dan mendarah daging dalam diri individu sehingga membentuk kepribadian. Dengan kata lain, lingkungan sosial individu dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian individu yang bersangkutan.
    
            Menurut ahli sosiolog Roucek dan Warren dari Amerika menyatakan ada tiga faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu.
(1)   Faktor biologis atau fisik, bila seseorang mempunyai kekurangan dalam dirinya / cacat fisik maka akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sebagainya sehingga akan mempengaruhi pembentukan kepribadian.
(2)   Faktor psikologis atau kejiwaan, antara lain unsur temperamen : agresifitas, pamarah, ambisius, ketrampilan dan kemampuan mampu mempengaruhi kepribadian seseorang.
(3)   Faktor Sosiologis atau lingkungan : yaitu faktor pembentuk kepribadian kelompok atau lingkungan masyarakatnya, contoh individu yang hidup di desa cenderung lebih ramah, peka terhadap lingkungan atau solidaritas serta keterikatan dengan alam sangat kuat sementara yang hidup di kota cenderung lebih individualistis serta solidaritasnya kurang.
      
            Menurut Koencaraningrat seorang sosiolog Indonesia, menyatakan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh unsur-unsur berikut :
(1)   Unsur Pengetahuan : pola pikir yang rasional tentang suatu hal atau pengamatan secara intensif dan terfokus yang terekam dalam otak dan bertahap diungkapkan kembali dalam bentuk perilaku.
(2)   Unsur Perasaan : baik yang bersifat positif maupun negatif, perasaan bersifat subyektif karena adanya unsur penilaian. Perasaan mengisi penuh kesadaran manusia tiap saat dalam hidupnya.
(3)   Naluri : dorongan naluri adalah kemauan yang sudah ada di setiap diri manusia (kodrati). Beberapa dorongan naluri manusia adalah :
a)   Dorongan untuk mempertahankan hidup
b)  Dorongan seksual
c)  Dorongan untuk mencari makan
d)  Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi dengan sesama
e)   Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya
f)   Dorongan untuk berbakti
g)   Memenuhi rasa aman dan damai .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar